6/21/2012

siapa sih yang ga sedih ngeliat ini?

Apa yang salah satu temen sedeng kita post di tumblr-nya.

"Malu, hal pertama yang saya rasakan begitu masuk SMAN 19 Bandung. Yap, mayoritas dari siswa SMPN 5 Bandung telah mengisi bangku bangku SMA favorit di kota Bandung. Saya merasa “minoritas” di sekolah baru saya itu.
X-7
Hanya dalam waktu 1 tahun, perasaan malu tersebut hilang dan berubah menjadi suatu kebanggaan. Dengan segala keterbatas yang dimiliki setiap individunya, kami dituntut untuk menjadi komplementer bagi setiap individu lainnya. Mereka berikan pelajaran yang tak ternilai harganya. Pengalaman dan pelajaran hidup. Dengan segala “kesederhanaan” mereka, mereka ajarkan saya untuk sedikit lebih menghargai uang, yang saat saya SMP, nyaris mustahil bisa saya lakukan, jangankan untuk menabung, uang saku yang nominalnya cukup besar pun, terkadang kurang rasanya. Mereka tak menuntut saya untuk masuk kedalam arus “kesederhanaan” mereka, mereka telah membuat saya sadar sendiri bahwa saya harus bisa masuk kedalam arus tersebut. Banyak dari profesi orang tua mereka yang menyadarkan saya bahwa betapa sulitnya hidup di dunia yang sangat keras ini, kerja keras mereka bahkan membuat saya lupa dengan kerja keras ayah saya yang memang sudah luar biasa. Ayah saya bukanlah menjadi komparasi yang ideal untuk mereka. Ayah saya yang hanya duduk di balik meja dengan label “Direktur Utama”, dan hanya menandatangani kontrak kerja dan beberapa kerja lapangan, harus disandingkan dengan kerja keras dari berbagai macam profesi “kelas bawah” yang membutuhkan tenaga cukup besar. Beruntung, saya telah memiliki toleransi sosial yang tinggi, “kasta” yang berbeda bukanlah halangan bagi saya untuk memilih teman.
Puncaknya adalah saat 2 hari yang kami namakan “perpisahan” digelar. Walaupun tidak semua siswa dikelas dapat mengikuti acara tersebut, tapi saya cukup puas dengan adanya acara tersebut. Semangat kekeluargaan yang cukup tinggi membuat “sekat pertemanan” diantara kami hilang. Semua berbaur dalam harmoni perpisahan. Cewe/Cowo, Kaya/Miskin, Rupawan/Jelek kami abaikan demi menjalin harmoni perpisahan X-7. Semua orang disana memiliki hak yang sama, dan tidak ada yang di”anak emas”kan. Terkadang, dalam keterbatasan, seseorang/sebuah organisasi memiliki “the power of kepepet”, begitupun X-7. Saat ada seorang teman mengalami kecelakaan, disitulah solidaritas kami sebagai suatu kesatuan muncul. Untuk membayar administrasi klinik, anak anak/teman teman bahkan menyumbangkan sebagian uang mereka demi teman mereka yang sedang mengalami musibah, dan bahkan sebagian dari mereka menyumbangkan semua uang sisa mereka demi kelancaran pengobatan teman kami. Mereka ajari saya tentang arti pertemanan yang sesungguhnya. Itulah namanya teman (yang sesungguhnya), ada saat dibutuhkan dan rela mengorbankan apapun deminya.
Yap, pelajaran hidup memang sangat sulit untuk dicari, dan saya merasa beruntung memiliki guru sekelas “X-7” yang bisa merubah kepribadian saya nyaris 180 derajat. Terimakasih semua. Terimakasih untuk satu tahun yang sangat berkesan dan berkualitasnya. Be yourself no matter what they say, guys! You’ve made me.
Dibalik air mata ini, saya selipkan salam perpisahan panjang kita.
Kalian yang terbaik!"

Kalo kata iklan rokok sih, ga ada lo ga rame, tp ya hidup, pilihan, mau dia mutasi juga yang jelas dia keluarga kita, x7. Sukses kedepannya masbro!!!<3

1 komentar:

  1. kereen, dan itu lah yg saya rasakan sama seperti anda, walaupun pada mulanya saya minder dan malu bersekolah disini, namun pada akhirnya saya merasa sangat" bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar sman 19 bdg ini dan label alumni 2011, karna disini saya diajarkan berbagai makna hidup yg mungkin ga akan saya dapatkan kalo saja nem saya lebih 0,1( saya ngejar sman 1 bdg) .kebersamaaan dan lingkungan yg tdak saya dapatkan di skolah lain ;'), kereen terus manfaatin momen sma-nya krna setelah kamu kuliah, kamu akan sangat" kangen masa masa ini, masa masa sma anda, dan berharap terulang, seperti kami para alumni :') :((

    @TORONTOTEAM

    BalasHapus